Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Hikmah. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Februari 2011

Sang Penolong Misterius

Ketika senja telah turun mengganti siang dengan malam, seorang laki-laki bergegas mengambil air wudhu. Memenuhi panggilan adzan yang bergaung indah memenuhi angkasa. "Allahu Akbar!" suara lelaki itu mengawali shalatnya. Khusyuk sekali ia melaksanakan ibadah kepada Allah. Tampak kerutan di keningnya bekas-bekas sujud. Dalam sujudnya, ia tenggelam bersama untaian-untaian doa. Seusai shalat, lama ia duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Ia terpaku dengan air mata mengalir, memohon ampunan Allah. Dan bila malam sudah naik ke puncaknya, laki-laki itu baru beranjak dari sajadahnya. "Rupanya malam sudah larut...,"bisiknya.

Ali Zainal Abidin, lelaki ahli ibadah itu berjalan menuju gudang yang penuh dengan bahan-bahan pangan. Ia pun membuka pintu gudang hartanya. Lalu, dikeluarkannya karung-karung berisi tepung, gandum, dan bahan-bahan makanan lainnya.

Ucapannya Seperti Amalnya

Ketika Imam Hasan Albashri sedang duduk bersama tamu-tamunya, datang salah seorang budak yang ingin meminta bantuan kepadanya. Budak tersebut berkata, “..wahai Imam Hasan Albashri, aku adalah seorang budak, dan aku memiliki majikan yang sangat jahat. Aku ingin agar di hari jumat yang akan datang engkau berkhutbah tentang keutamaan memerdekakan budak supaya aku dibebaskan dan tidak lagi menderita karena kejahatan majikanku.”

Ketika datang waktu jumat, Imam Hasan Albashri tidak berkhutbah tentang keutamaan memerdekakan budak, melainkan ia berkhutbah mengenai keutamaan memerdekakan budak di jumat berikutnya.

Jumat, 28 Januari 2011

Nasib Lelaki Buta Sebatang Kara

Pada suatu malam, ada seorang lelaki buta yang tidak dapat melelapkan matanya. Hatinya seperti langit yang diselubungi mega. Dia mengeluh dan merintih sayu, “Ya Tuhanku, betapa kerasnya hati manusia di sekelilingku. Tidak ada seorangpun yang mau memikirkan insan malang dan miskin. Ya Tuhan, pada siapakah dapat aku hulurkan tangan meminta bantuan?”

Dia teringat tahun-tahun yang lampau, ketika isterinya yang baik masih hidup. Tiba-tiba air mata bergenang di kelopak mata dan membasahi wajahnya.

Pembuat Kendi Dan Pengerajin Emas


Bertahun-tahun yang lampau di salah sebuah kota, tinggal seorang pengrajin emas dan seorang pembuat kendi. Perajin emas itu seorang materialis dan pecinta harta. Oleh sebab itu, dia senantiasa berusaha dengan segala cara untuk mendapatkan harta dan kekayaan. Semua orang tahu bahwa dia tidak mengindahkan kejujuran.

Sebaliknya, pembuat kendi adalah seorang mukmin dan pekerja keras. Dia dicintai oleh masyarakat. Setiap orang yang memiliki problema akan datang meminta bantuannya. Si perajin emas berfikir, mengapa warga kota begitu menyintai pembuat kendi, padahal dia tidak memiliki harta benda. Menurutnya, cinta dan kasih sayang bisa diperoleh lewat tipu daya. Karena itu timbul rasa dengki si pengerajin emas terhadap pembuat kendi.